Diskusi “Penanganan Padi Paska Panen & Upaya Pemberdayaan Petani “, Jadikan Vietnam Pengekspor Beras

Pemerintah Vietnam senantiasa menjamin keberadaan benih padi, pupuk dan pestisida bagi para petaninya untuk menjamin keberhasilan produksi padi nasional. Dalam hal ini Pemerintah telah memainkan perannya yang signifikan, sehingga sekalipun sudah memasuki era ekonomi bebas, industri pertanian Vietnam tidak terjerumus ke dalam kondisi pasar yang dikuasai pelaku ekonomi/bisnis, yang dapat mengakibatkan petani menjadi korban atas nama pembangunan ekonomi. Yang menarik, sekalipun sebagian pupuk harus diimpor, petani tetap dapat memperolehnya dengan harga yang wajar. Demikian salah satu kesimpulan penting dari diskusi yang diperoleh pihak luar dalam mempelajari keberhasilan Vietnam menjadi pengekspor utama beras dunia. Diskusi diselenggarakan di KJRI HCMC, pada 16 April 2012, terkait dengan kunjungan delegasi Program Studi Magister Sains Agribisnis, Institut Pertanian Bogor (MSA IPB). Delegasi IPB yang terdiri dari 27 mahasiswa didampingi 13 orang staf PMSA IPB dalam melaksanakan kegiatan International Agribusiness Field Trip ke Ho Chi Minh City dan Delta Mekong, Vietnam pada 14-17 April 2012.
Konjen RI di HCMC saat menyambut delegasi Program Studi MSA IPB. Duduk disebelah kiri Konjen, Ketua MSA IPB, Prof. Dr. Rita Nurmalina; Ketua Dep. Agribisnis, Dr. Nunung Kusnadi; staf The Sub-Institute of Agricultural Enginering & Post-harvest Technology (SIAEP) dan Dr. Pham Van Tan
Sebagai nara sumber/pembicara Dr. Pham Van Tan dari The Sub-Institute of Agricultural Enginering & Post-Harvest Technology (SIAEP), menyampaikan presentasi yang bertajuk “Rice Quality and Solutions to Post-harvest Losses of Rice”. Mengawali pertemuan, Konjen RI di HCMC, Bambang Tarsanto, menyampaikan Vietnam merupakan model yang tepat untuk melakukan studi banding sesuai dengan pencapaiannya sebagai negara pertanian dan aquaculture kelas dunia. Di sektor pertanian Vietnam merupakan pengekspor utama dunia untuk beras, kopi, jambu mete dan lada. Sementara nilai ekspor aquaculture pada 2011 mencapai sebesar US$ 6 miliar. Semoga fakta tersebut dapat menjadi pemicu untuk mempelajari proses pencapaian dan panutan untuk diterapkan di Indonesia.
Dr. Pham Van Tan saat menyampaikan presentasi di lobby KJRI HCMC
Dr. Tan membuka presentasinya dengan menayangkan data produsen dan konsumen beras dunia, serta menyampaikan peran beras dalam pembangunan Vietnam, yaitu merupakan makanan pokok, memberi pekerjaan bagi 63% penduduk Vietnam, menjamin keamanan pangan nasional, berkontribusi terhadap keamanan pangan dunia, merupakan dasar dalam proses industrialisasi dan modernisasi negara. Selain masalah teknis penanganan kerugian paska panen Dr. Tan juga menyampaikan masalah yang dihadapi petani dalam memasarkan produknya, keberadaan calo yang acapkali membuat petani tidak mempunyai posisi tawar, menjadi perhatian pemerintah Vietnam. Ministry of Agriculture and Rural Development (MARD) dan Litbang Pertanian terus melengkapi petani dengan tehnik, pelatihan dan subsidi dalam pembelian peralatan penanganan padi paska panen. Dengan pelatihan dan subsidi tersebut petani akan mampu menghasilkan beras berkualitas dan menyimpannya, sehingga mempunyai kekuatan menawar, untuk menahan atau menjual padinya.
Salah seorang mahasiswa MSA IPB menggunakan sesi Q&A untuk mengetahui lebih jauh masalah tehnis paska panen. Tampak mendengarkan dengan cermat, Pejabat Fungsi Ekonomi, Dalton Sembiring, moderator untuk acara Q&A tersebut.
Pada acara tanya jawab yang dimoderatori oleh Pejabat Fungsi Ekonomi KJRI HCMC, Dalton Sembiring, tidak hanya para mahasiswa yang mengajukan pertanyaan, para dosen juga tertarik untuk menggali infomasi lebih jauh dari pakar pertanian Vietnam. Para peserta diskusi merasa puas dengan program diskusi yang berlangsung di lobby KJRI HCMC tersebut.
Konjen RI dan Dr. Pham Van Tan bersama delegasi PS MSA IPB didepan kantor KJRI HCMC